Menari di atas Neraca, Melacak Jejak Langkah Kuda Renggong: Studi tentang Praktik Akuntansi dan Pelestarian Budaya di Sumedang
DOI:
https://doi.org/10.70294/wfqwkw32Keywords:
Kuda Renggong, Praktik Akuntansi, Pelestarian Budaya, Seni Tradisional, SumedangAbstract
Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana kelompok seni Kuda Renggong di Kabupaten Sumedang menata praktik pengelolaan keuangannya, sekaligus menelaah keterkaitan antara praktik akuntansi sederhana yang dijalankan dengan upaya pelestarian budaya lokal. Dalam konteks tekanan ekonomi, perubahan selera hiburan, serta tuntutan administratif dari pemerintah, kelompok Kuda Renggong dituntut untuk terus menjaga keseimbangan antara keberlangsungan finansial dan kelestarian nilai budaya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus pada beberapa kelompok Kuda Renggong yang masih aktif beroperasi di Sumedang. Data diperoleh melalui studi literatur, observasi kegiatan latihan dan pertunjukan, wawancara semi-terstruktur dengan pimpinan kelompok, pemilik kuda, dan pemain, serta analisis dokumen berupa catatan kas, jadwal pertunjukan, dan dokumentasi visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan kelompok sangat ditopang oleh nilai kepercayaan, kekeluargaan, dan gotong royong. Pencatatan keuangan umumnya masih berbentuk buku kas sederhana, tetapi telah memuat upaya menjaga keseimbangan antara penerimaan dan pengeluaran untuk pakan dan perawatan kuda, kostum, alat musik, transportasi, hingga kompensasi bagi anggota. Di sisi lain, dukungan pemerintah daerah dan masyarakat menjadi faktor penting yang membantu kelompok mengakses sumber pendanaan tambahan, meskipun persyaratan administratif sering kali menjadi tantangan. Penelitian ini menegaskan bahwa penguatan praktik akuntansi yang kontekstual, mudah dipahami, dan selaras dengan nilai budaya lokal berpotensi menjadi strategi kunci agar Kuda Renggong tetap bertahan sebagai sumber penghidupan sekaligus warisan budaya takbenda di Sumedang.