Hubungan Berat Badan Lahir Rendah dengan Kejadian Stunting pada Balita di Puskesmas Patuk Tahun 2026
Keywords:
Low Birth Weight, Stunting, ToddlersAbstract
Background: Stunting is a chronic malnutrition problem that can hinder a child's growth and development. Low birth weight (LBW) is one of the factors associated with stunting. According to the WHO (2024), the stunting incidence is 23.2%, in Indonesia (2024) it is 19.8%, in Yogyakarta (2024) it is 17.4%, and in Gunung Kidul Regency (2024) it is 16.3%. In 2025, the incidence of stunting at Patuk 1 Community Health Center will increase from 165 cases in 2024 to 260 cases, an increase of 57.58%. Research purposes: 1) To determine the relationship between a history of low birth weight and the incidence of stunting in toddlers at Patuk 1 Community Health Center, Gunung Kidul Regency in 2025. 2) To determine the characteristics of toddlers based on gender, age, history of LBW, and the incidence of stunting. 3) To determine the incidence of LBW in toddlers at Patuk 1 Community Health Center, Gunung Kidul Regency. 4) To determine the incidence of stunting in toddlers at Patuk 1 Community Health Center. Research methods: This research is a quantitative research with designcross-sectional The study population was all toddlers registered at Patuk 1 Community Health Center in 2025. The study sample consisted of 804 toddlers using a total sampling technique. Data collection used secondary data from e-PPGBM at Patuk 1 Community Health Center. The results of the study were analyzed through a multivariate analysis (T-test) chi-square. Research result: The results of the study showed that out of 804 toddlers, 64 (8%) had a history of low birth weight (LBW) and 740 toddlers (92%) did not have a history of low birth weight (LBW). Stunting was found in 143 toddlers (17.8%), while 661 toddlers (82.2%) did not experience stunting. The results of statistical tests showed a significant relationship between low birth weight (LBW) and the incidence of stunting in toddlers.p-value 0.000 (p<0.05) and the valueodds ratio (OR) of 2.898, which means that toddlers with a history of LBW have a 2.898 times greater risk of experiencing stunting than toddlers who do not have a history of LBW. Conclusion: This study is a relationship between low birth weight and the incidence of stunting in toddlers at Patuk 1 Health Center in 2026.
References
Anggraini, H., Windari, F., Rosmawati, D., & Ningsih, T. R. (2024). Faktor penyebab terjadinya berat badan lahir rendah (BBLR). Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia, 3(1), 205–209. https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/858
Akbar, RR, Kartika, W., & Khairunnisa, M. (2023). Pengaruh Stunting terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak. Jurnal Ilmiah, 2 (4), 153–160. https://doi.org/10.56260/sciena.v2i4.118
Arsesiana, A. (2021). Analisis hubungan usia ibu dan jarak kehamilan dengan kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR) di RS Panembahan Senopati Bantul. Jurnal Kebidanan, 11(1), 592–597.
Damayanti, R. A., & Muniroh, L. (2022). Pemberian ASI eksklusif pada balita stunting dan non-stunting (Giving exclusive breastfeeding to stunting and non-stunting toddlers). Media Gizi Indonesia, 11(1), 61–69.
Ersila, W., Muhammadiyah, U., Pekalongan, P., Huwae, A., Kristen, U., Wacana, S., & Wijayanto, A. (2024). Tantangan dan Problematika Ilmu Kesehatan Masyarakat (Issue May). https://doi.org/10.5281/zenodo.11385789
Fatkhiyah, N., Siswati, & R. (2023). Analisis faktor penyebab stunting di Desa Kalisapu Kab. Tegal. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan, 14(2), 9.
Febrianti, F., Dewi, I., & Hasnita, H. (2023). Hubungan berat badan lahir rendah dan penyakit infeksi dengan kejadian stunting pada usia toddler di Puskesmas Tanralili Kabupaten Maros. JIMPK: Jurnal Ilmiah Mahasiswa & Penelitian Keperawatan, 3(1), 21–29.
Hanisa, & Ernawati, D. (2024). Hubungan riwayat bayi berat lahir rendah (BBLR) dengan kejadian stunting pada balita usia 24–59 bulan di Desa Giripurno. Jurnal Kesehatan Cendikia Jenius, 1(3), 1–6.
Hasibuan, N., Hidayati, R. W., & Suyani. (2025). Hubungan pola pemberian makan dengan kejadian stunting pada anak usia 24–59 bulan di Puskesmas Kalibawang Kabupaten Kulon Progo. Borneo Nursing Journal (BNJ), 8(1), 769–779. https://doi.org/10.61878/bnj.v8i1.253
Hidayanti, A. N., & Abbas, N. (2025). Faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Sukaraja Kabupaten Bogor. The Shine Cahaya Dunia Kebidanan, 10(1), 6–22. https://doi.org/10.35720/tscbid.v10i01.689
Intan, & Handayani, R. S. (2026). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita 24–59 bulan di wilayah kerja UPT Puskesmas Leles Kabupaten Garut Tahun 2024. Jurnal Ilmiah Kesehatan BPI, 10(1), 87–98.
Irzan, A. R. (2024). Faktor-faktor penyebab kejadian stunting pada balita: Literature review. Kesmaspedia: Jurnal Riset Kesehatan Masyarakat, 1(1). https://kesmaspedia.com/index.php/kp/article/view/1/1
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Stunting: masalah kurang gizi kronis pada anak. Diakses dari https://ayosehat.kemkes.go.id/topik-non-penyakit/defisiensi-nutrisi/stunting
Khoiriyah, H., & Ismarwati, I. (2023). Faktor kejadian stunting pada balita: Systematic review. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 12(1), 28–40. https://doi.org/10.33221/jikm.v12i01.1844
Lestari, E. S. (2021). Hubungan status gizi dan anemia dengan kejadian bayi berat badan lahir rendah di Rumah Sakit Dustira Cimahi tahun 2018. Jurnal Health Sains, 2(2), 161–171.
Maharani, A. W. (2024). Tinjauan pustaka: Faktor risiko dan dampak berat badan lahir rendah (BBLR). Jurnal Medika Hutama, 5(2), 3808–3815.
Nasution, I. S., & Susilawati, S. (2022). Analisis faktor penyebab kejadian stunting pada balita usia 0–59 bulan. FLORONA: Jurnal Ilmiah Kesehatan, 1(2), 82–87.
Ningsih, F., Damayanti, N., & Suciaty, S. (2022). Gambaran faktor-faktor risiko BBLR pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Palu Barat tahun 2021. Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, 4(2), 76–81. https://doi.org/10.31970/ma.v4i2.102
Pasaribu, C. J., & Mendrofa, O. R. N. (2021). Hubungan berat badan lahir rendah (BBLR) dengan kejadian stunting pada anak usia 1–5 tahun. Journal Health of Education, 2(2).
Rahmawati, D., & Astria, N. (2024). Hubungan asupan gizi dan pola asuh terhadap kejadian stunting pada balita usia 2–5 tahun. Muhammadiyah Journal of Midwifery, 5(1), 40–49.
Rahayu, Y. D., Yunariyah, B., & Jannah, R. (2022). Gambaran faktor penyebab kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Semanding Tuban. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 10(2), 156–162.
Sari, D. I., & Sari, I. P. (2022). Stunting dan perkembangan balita usia 36–59 bulan di Jakarta dan Papua. Nutri-Sains: Jurnal Gizi, Pangan dan Aplikasinya, 6(2), 113–124.
Setyawati, L. A., Oktavia, E., & Rini, S. P. (2025). Hubungan riwayat ibu hamil kekurangan energi kronik dengan kejadian stunting pada balita di Puskesmas Rongkop Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner, 2(3), 2305–2313. https://ojs.ruangpublikasi.com/index.php/jpim/article/view/1159
Shodikin, A. A., Mutalazimah, M., Muwakhidah, M., & Mardiyati, N. L. (2023). Tingkat pendidikan ibu dan pola asuh gizi hubungannya dengan kejadian stunting pada balita usia 24–59 bulan. Journal of Nutrition College, 12(1), 33–41. https://doi.org/10.14710/jnc.v12i1.35322
Subayu, A. (2022). Penerapan metode K-Means untuk analisis stunting gizi pada balita: Systematic review. Jurnal Sains, Nalar, dan Aplikasi Teknologi Informasi, 2(1), 42–50.
Suryana, E. A., & Azis, M. (2023). The potential of economic loss due to stunting in indonesia. Jurnal Ekonomi Kesehatan Indonesia, 8(1), 52-65.
Ulum, M. M., Regita, C. C., & Abiddin, A. H. (2024). Pola asuh ibu dalam pemenuhan status gizi anak usia 3–5 tahun. Jurnal Keperawatan Cikini, 5(1), 17–25.
Yuningsih, Y., & Perbawati, D. (2022). Hubungan jenis kelamin terhadap kejadian stunting. Jurnal MID-Z (Midwifery Zigot) Jurnal Ilmiah Kebidanan, 5(1), 48–53. https://doi.org/10.56013/jurnalmidz.v5i1.1365






