Analisis Kritis Kebijakan Digitalisasi dan Disparitas Madrasah di Lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro
Keywords:
Politik Pendidikan; Etika Pendidikan; Kemenag Bojonegoro; Digitalisasi; Disparitas MadrasahAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk membedah secara kritis kebijakan pendidikan Islam di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bojonegoro melalui tinjauan teoretis politik dan etika pendidikan. Fokus kajian diarahkan pada dua dinamika utama: implementasi kebijakan digitalisasi birokrasi madrasah (EMIS dan ERKAM) serta problematika disparitas tata kelola antara madrasah negeri dan swasta. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan dan analisis wacana kritis (Critical Discourse Analysis), artikel ini menguraikan bahwa kebijakan digitalisasi yang bersifat top-down sering kali mengabaikan kesiapan infrastruktur dan kapasitas SDM di tingkat akar rumput. Hasil analisis menunjukkan adanya kontradiksi etis di mana beban administratif digital yang berlebihan telah mendistorsi peran moral dan waktu interaksi guru terhadap peserta didik (alienasi profesional). Selain itu, terjadi ketidakadilan distributif dalam alokasi sumber daya antara madrasah negeri pusat kota dan madrasah swasta pinggiran Bojonegoro. Penelitian ini merekomendasikan perlunya rekonstruksi kebijakan lokal yang berbasis pada etika kepedulian (ethics of care) dan kebijakan afirmatif asimetris demi mewujudkan kemaslahatan pendidikan Islam yang substantif.
References
Admiraal, W., Westhoff, G., & deBot, K. (2006). Evaluation of bilingual secondary education in the Netherlands: Students’ language proficiency in English. Educational Research and Evaluation, 12(1), 75–93.
Akbar, Sa’dun. (2020). Instrumen Perangkat Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Alper, Meryl. (2019). Developmentally Appropriate New Media Literacies: Supporting Cultural Competencies and Social Skills in Early Childhood Education. Journal of Early Childhood Literacy.
Baker, K. A., & de Kanter, A. A. (1983). Federal policy and the effectiveness of bilingual education. In K. A. Baker & A. A. de Kanter (Eds.), Bilingual education: A reappraisal of federal policy (pp. 33–86). Lexington, MA: Lexington Books.
Branch, Robert Maribe. (2019). Instructional Design: The ADDIE Approch. New York: Department of Educational Psychology and Instructional Technology University of Georgia.
Creswell, J, W. (2007). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five traditions. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
Freire, Paulo. (2005). Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum.
Giroux, Henry A. (2011). On Critical Pedagogy. New York: Continuum International Publishing Group.
Kementerian Agama RI. (2020). Keputusan Menteri Agama Nomor 660 Tahun 2020 tentang Pedoman Implementasi Digitalisasi Madrasah. Jakarta: Kemenag RI.
Mukminin, A. (2012). Acculturative experiences among Indonesian graduate students in US higher education: Academic shock, adjustment, crisis, and resolution. Excellence in Higher Education Journal, 3(1), 14–36.
Noddings, Nel. (2013). Caring: A Relational Approach to Ethics and Moral Education. Berkeley: University of California Press.
Sirozi, Muhammad. (2007). Politik Pendidikan: Dinamika Hubungan Antara Kepentingan Kekuasaan dan Praktik Penyelenggaraan Pendidikan. Yogyakarta: RajaGrafindo Persada.
Tilaar, H. A. R. (2003). Kekuatan dan Pendidikan: Suatu Tinjauan Dari Perspektif Studi Kultural. Magelang: Indonesia Tera.






